Home » » Eksotisme Magis Masyarakat Suku Dayak

Eksotisme Magis Masyarakat Suku Dayak


Keberadaan Suku Dayak merupakan salah satu bukti dari kemajemukan suku bangsa di Indonesia dan sebagian Malaysia yang mendiami Pulau Kalimantan. Suku Dayak memiliki banyak subsuku yang mendiami di berbagai wilayah di daratan dan sekitar perairan Pulau Kalimantan. Di Indonesia Suku Dayak dikenal dengan kebudayaan dan keragamaan seninya, keindahan tenunan, ukiran serta kerajinan tangan lainnya. Namun dalam kesehariannya mereka tidak terlepas dari keluhuran nilai dan filosofi yang telah dipegang teguh sejak zaman nenek moyang mereka, sesuatu yang memiliki nilai magis dan pedoman hidup.  Kali ini uniknya.com merangkum keindahan budi dan karsa masyarakat Suku Dayak dari sisi keindahan nilai mistis dalam keseharian mereka.

1. Tato (Parung atau Betik)

Tato (Parung atau Betik) 

Secara relijius tato bagi masyarakat Suku Dayak pada umumnya, merupakan sebuah ‘obor’ yang akan menerangi perjalanan hidup seseorang menuju alam keabadian, setelah kematian. Sehingga tidak herang mereka memiliki pemahaman, semakin banyak memiliki tato makan jalan kehidupan mereka semakin terang dan jalan menuju ke alam keabadian semakin lapang. Namun tidak semua Suku Dayak memiliki konsepsi yang sama, bahkan ada dari subsuku Dayak yang tidak memiliki tradisi tato, seperti masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan dan Suku Maanyan di Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Barito Timur .
Bagi suku Dayak yang bermukim perbatasan Kalimantan dan Serawak Malaysia, misalnya, Tato di sekitar jari tangan menunjukkan orang tersebut suku yang suka menolong seperti ahli pengobatan. Semakin banyak Tato di tangannya, menunjukkan orang itu semakin banyak menolong dan semakin ahli dalam pengobatan.  Dan bagi masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur, banyaknya Tato menggambarkan orang tersebut sudah sering mengembara. Karena ada kebiasaan  setiap perkampungan Dayak yang mentradisikan Tato memiliki jenis motif Tato tersendiri bahkan memiliki penempatan Tato tersendiri di bagian tubuh mereka yang merupakan ciri khas suku mereka. Sehingga bagi mereka banyaknya Tattoo menandakan pemiliknya sudah mengunjungi banyak kampung.
Ada pula tato yang menandakan status sosial kebangsawanan di dalam masyarakat Suku Dayak. Seperti di dalam tatanan sosial masyarakat Dayak Kenyah, mereka memiliki tato bermotifkan burung enggang (anggang), unggas khas Kalimantan yang dianggap sebagai raja dari segala burung. Burung tersebut melambangkan kegagahan, keperkasaan, kharisma dan kejayaan. Sehingga tato burung enggang hanya dimiliki oleh kalangan tertentu saja. Sementara bagi Suku Dayak Iban bagi kepala suku dan keturunannya mereka memiliki tato yang bermotifkan ‘dunia atas’ atau sesuatu yang hidup di atas.
Baik tato bagi kaum pria dan wanita di dalam tatanan masyarakat Suku Dayak memiliki perbedaan dari nilai dan fungsinya. Tato pada kaum wanita diberikan sebagai penghargaan atas prestasi dan bakat mereka yang mencolok, seperti dalam menenun, menari dan menyanyi. Tenunan bagi masyarakat Suku Dayak memiliki nilai reliji yang sangat luhur, dan membutuhkan keahlian tertentu. Dalam kepercayaan ritual, tenunan menghubungkan mereka dengan roh-roh penolong sebelum mereka merancang tenunannya.Hal ini menginspirasikan jiwa yang lain untuk membuat tenunan baru. Pekerjaan tekstil,secara sosial dan ritual ‘dihargai’ dengan dibuatnya tato pada tangan wanita.oleh sebab itu corak dan gambar tatto pada wanita dayak diberikan berbeda beda sesuai dengan keahliannya.

2. Ngayau (Mengayau)

Ngayau (Mengayau) 

Mengayau, Ngayau, merupakan sebuah ritual yang dilakukan dalam peristiwa peperangan, sebuah tradisi yang mengharuskan para petarung mereka memenggal kepala musuh. Tradisi ini dimiliki oleh Suku Dayak Iban,  Kalimantan Barat. Tradisi ini merupakan cara untuk menunjukan keberanian kaum pria, melindungi masyarakat, dan memperluas wilayah mereka.
Dalam kajian kebudayaan, mengayau, dikenal sebagai sebuah upacara adat suku Dayak di pulau Kalimantan (Borneo) (Yekti Maunati, 2006).  Mengayau memiliki banyak tujuan seperti menunjukkan keberanian, mempertahankan dan memperluas wilayah, melindungi warga suku, persembahan kepada dewa, dan salah satu cara untuk bertahan hidup. Sementara itu, menurut JU Lontaan (1975:533-535), mengayau memiliki beberapa tujuan, yaitu melindungi pertanian, untuk mendapatkan daya rohaniah, balas dendam, dan daya tahan berdirinya suatu bangunan.
Aktifitas ‘berburu kepala’ dilakukan secara berkelompok oleh lelaki Suku Dayak Iban, dan mereka yang berhasil dianggap sebagai pahlawan perang dan mendapat gelar ‘Bujang Berani’.  Di masa lampau, leluhur Suku Iban menggunakan tradisi mengayau/kayau ini juga untuk mempersembahkan sebuah pengorbanan bagi dewa-dewa mereka.  Sebenarnya bagi suku Dayak Iban, ngayau  merupakan upacara adat yang dilakukan secara khusus dan tidak sembarang orang dapat mengayau karena terdapat aturan yang harus ditaati. Pengayauan  sesungguhnya adalah hukuman yang sangat berat bagi pemenang kayau, karena suatu ketika dirinya akan /dikayau/ oleh orang lain. Tradisi ini terus berlangsung lama hingga akhirnya mulai berkurang ketika agama Kristen masuk ke Kalimantan. Saat ini upacara adat mengayau hanya digelar untuk merayakan pesat adat. Adapun sebagai pengganti kepala manusia panitia menggunakan kepala babi (cetak.kompas.com)

3. Mitos Kek Catok, Kek tung

Ilustrasi Mitos Kek Catok, Kek tung 

Masyarakat Dayak di Kalimantan Barat, memiliki legenda yang eksotis dalam budaya tuturnya, yakni sesosok mahluk mitologi yang mereka kenal dengan nama Kek Catok.  Sesosok mahluk yang mereka kenal sebagai harimau dahan, yang senantiasa mengeluarkan bunyi ‘kung kung kung’, sayup sayup nan menggetarkan hati. Mereka menganggap sosok Kek Catok  sebagai mahluk penjaga hutan, karena mampu mengendalikan kerakusan manusia yang ingin merusak dan mengambil kekayaan hutan seenaknya. Itu sebabnya, masyarakat Suku Dayak Simpakng senantiasa mengelola hutan secara lestari, mempertahankan tradisi berladang, dan menolak perkebunan monokultur yang merusak alam.
“Selain Kek Catok, kami juga menyebutnya togukng, macatn daan, serta remaong. Wujudnya benar-benar berupa satwa, tetapi memiliki nilai mistik melalui suaranya. Jika bersuara, isyarat akan terjadi sesuatu, pada umumnya ke arah yang buruk,” tutur Beleng, yang oleh Komunitas Dayak Simpakng di Kota Pontianak diberi kepercayaan sebagai tamongokng atau semacam kepala adat.
Berdasarkan cerita legenda sosok kek catok ini memiliki hubungan asmara dengan seorang manusia, dan diyakini hingga sekarang darahnya mengalir di beberapa anggota masyarakat Suku Dayak Simpakng. Adoria Nitty (47), petinggi adat Banua Simpakng, yang kesehariannya mendapat mandat sebagai tetua adat di Desa Banjur Karab, Kecamatan Simpang  Dua, menuturkan, siapa yang punya susur galur dengan togukng bisa memanggil dia melalui beberapa ritual.
Yakni membakar bulu ayam putih, dengan sesaji berupa daging, hati, dan darah ayam putih, ujung kaki, ujung paruh, dan ujung jengger, serba sedikit dalam kondisi matang dengan dipanggang. Sambil membakar bulu ayam, mantera dirapalkan.
Adapun sosok togukng memiliki keanehan di tubuhnya yakni guratan menyerupai gambar pedang, senapan lantak, parang, dan atribut masyarakat Dayak lainnya. Pada saat tertentu, bisa juga makhluk ini menyerupai kelempiau (ada yang menyebutnya sejenis kera ataupun macan) belang hitam-putih.  Togukng yang bisa menyerupai satwa kelempiau ini dibenarkan Adoria Nitty (47), petinggi adat Banua Simpakng, yang kesehariannya mendapat mandat sebagai tetua adat di Desa Banjur Karab, Kecamatan Simpang Dua. Sebagai hewan mistis setengah hantu, makhluk ini bisa berubah bentuk. Mulanya remaong, sejenis kucing hutan yang besar.
Menurut Nitty, togukng punya gaya terbang yang unik. Ia selalu hinggap dengan posisi melintangi batang pohon, bukan membujur seperti layaknya hewan hutan lainnya, seperti memeluk pohon dengan gaya melintang.
Sosok mahluk mitos ini tidak sesakti yang dipikirkan, karena ia pun memiliki kelengahan dan kesialan  yang mampu menimpanya. Beleng menilai, naas bisa saja menimpa togukng, yakni dalam bahasa lokal disebut ‘kempunan’. Kempunan berarti suatu malapetaka yang sewaktu-waktu bisa menimpa, tanpa bisa diprediksi. Biasanya kempunan terjadi jika kita tidak menyentuh makanan yang ditawarkan seseorang, sebelum kita bepergian. Makanya dalam tradisi masyarakat Dayak, jika saat hendak bepergian tiba-tiba ditawarkan makanan, haruslah diterima, minimal disentuh atau disebut pusak.

4. Mitologi Naga Air

Ilustrasi Mitologi Naga Air

Masyarakat Kutai Barat (Kubar), khususnya warga Mahakam Ulu, digemparkan kemunculan sepasang ular raksasa sebesar drum atau berdiameter sekitar 60 sentimeter, dengan panjang sekitar 40 meter. Ular raksasa itu terlihat meliuk di permukaan air di Riam Haloq, Kampung Long Tuyoq, Kecamatan Long Pahangai.
Gambar tersebut diambil oleh anggota tim wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak, sebuah koran lokal, pekan lalu. New Straits Times di Kuala Lumpur, juga memuat foto tersebut yang kemudian dirilis oleh The Telegraph, Inggris, pada 11 Februari 2009 lalu.
Munculnya binatang raksasa yang diyakini warga hulu Sungai Mahakam Kalimantan Timur sebagai naga ini dibenarkan oleh drs Toni Imang, Kabag Sosial, Kabupaten Kutai Barat. “Kebetulan yang disebut dalam berita itu adalah kampung halaman saya,” katanya menjawab Kompas saat dihubungi via ponselnya, Jumat (5/2/2010)
“Di masyarakat kami di pedalaman hulu Mahakam, binatang itu namanya lengian atau naga air. Sejak saya masih kecil, saya sudah mendengar cerita semacam itu. Secara fisik, saya belum pernah melihat binatang itu. Tetapi telapak naga yang ditinggalkan saat binatang seperti itu melintasi daratan, sawah, atau kolam saya pernah melihat,” katanya.
Menurut kepercayaan masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Mahakam, kemunculan naga ke permukaan sungai bagi Suku Dayak merupakan sebuah pertanda akan turun hujan deras yang disertai banjir dan memang kenyataannya pertanda itu terjadi. Tiga hari setelah kemunculan naga tersebut, daerah Sungai Mahakam diterjang banjir dan hujan deras selama tiga hari berturut-turut. Berdasarkan legenda yang hidup di masyarakat setempat yaitu di daerah Kalimantan dan sekitarnya, memang dipercayai adanya ular besar yang mirip naga dan bernama Nabau. Nabau ini memiliki panjang sekitar 80 meter dengan kepala yang menyerupai naga dengan tujuh lubang hidung. Namun belum pernah ada masyarakat yang melihat apakah ular-ular raksasa yang diduga naga itu menyemburkan api dari mulutnya seperti naga yang digambarkan di film-film.Percaya atau tidak percaya, legenda tentang naga ini tetap menjadi misteri dan akan terus menarik untuk diteliti, diselidiki dan dijadikan cerita yang terus berkembang.

5. Pusaka Supranatural
Setiap suku bangsa yang terdapat di berbagai wilayah Indonesia dan Malaysia, dipastikan memiliki kepercayaan terhadap benda-benda yang memiliki kekuatan supranatural dengan berbagai fungsi dan tujuan. Berikut pusaka supranatural yang dimiliki kekuatan magis dalam kehidupan masyarakat Suku Dayak:
  • Gerangiiq, diyakini memiliki kekuatan mistis walaupun bentuknya kecil sebesar jari kelingking, namun dibuat secara khusus mulai dari pembuatan hingga pemilihan bahan kayunya. Kekuatan mistis yang dimiliki oleh gerangiiq ini adalah mampu menangkal satu atau dua kekuatan ‘gelap’ jahat. Gerangiiq biasanya digunakan secara dikalungkan.
  • Serempelit, sebuah benda mistis yang berupa ikat pinggang. Serempelit ini berfungsi untuk melindungi seseorang ketika dalam situasi peperangan, perkelahian. Selain dipercaya memiliki kekuatan mistis, isi yang terdapat di dalamnya merupakan bahan-bahan yang dianggap memiliki nilai magis. Mengajiiq atau bekajiiq, adalah sebuah proses pembuatan serempelit yang dilakukan oleh seorang guru. Kebanyakan orang yang memakai serempelit dipinggangnya akan merasa tangguh dan lebih percaya diri.
  • Penyirapm, merupakan minyak yang diyakini memiliki kekuatan magis, biasa dibawa ataupun disimpan di dalam rumah. Minyak penyirapm memiliki daya magis yang mampu menyembunyikan wujud seseorang ataupun rumah, sehingga tidak terlihat oleh musuh atau siapapun.  Ciri seseorang yang menyimpan minyak peripapm adalah terdengarnya suara kodok bersahutan. Penyirapm berasal dari bahasa Dayak Benuaq yang artinya suasana malam gelap gulita, tanpa sinar bulan sekalipun.

Ilustrasi Pusaka Supranatural 

Demikian eksotisme kebudayaan masyarakat Suku Dayak, baik yang termasuk ke dalam wilayah Indonesia maupun Malaysia. (**)
Jika dalam penjelasan di atas ada yang sobat kurang mengerti, silahkan tulis di kolom komentar. Semoga bermanfaat terima kasih.

Related Post:

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2011. ILMU ALAM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger